12 Cara ampuh Financial Freedom



 1. Perjalanan Panjang nan Terjal untuk Meraih Financial Freedom 2. Berapa Penghasilan yang Harus Anda Peroleh agar Bisa Hidup dengan Layak? 3. Jika Anda Ingin Meraih Financial Freedom, Silakan Baca Artikel ini 4. Kenapa pada Saat Usia 55, Anda Harus Punya Tabungan Minimal Rp 3 Milyar? 5. Jika Anda Ingin Hidup Susah dan Miskin, Maka Tulisan ini Tidak Perlu Anda Baca 6. Kenapa Motivasi dan Tekad untuk Mengubah Nasib itu Mudah Menguap? 7. 100 Langkah untuk Tidak Miskin : Ayunan Langkah Jitu untuk Membuat Anda Makmur 8. Empat Pilihan Investasi Top untuk Masa Depan yang Sejahtera 9. Jika Penghasilan “Hanya” Rp 7 juta/bulan, Kapan Bisa Beli Rumah? 10.Jika Sampai Usia 35 Tahun Anda Masih Miskin, Salah Dirimu Sendiri 11.Tiga Hal Yang Bisa Membuatmu Bangkrut Total Saat Memasuki Masa Pensiun 12.LIMA Alasan Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bisa Kaya Hingga Akhir Hayatnya 3 Sekilas mengenai Penulis/Blogger Penulis ebook ini adalah Yodhia Antariksa, blogger pada www.strategimanajemen.net – blog yang terpilih sebagai blog bisnis terbaik dalam ajang Pesta Blogger Indonesia. Yodhia menyelesaikan pendidikan master dari Graduate School of Business, Texas A&M University, USA atas beasiswa Fulbright Scholarship. Sementara pendidikan strata satu-nya di-selesaikan dalam bidang manajemen dari Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta. Yodhia merupakan founder dan CEO PT. Manajemen Kinerja Utama, sebuah consulting firm dalam bidang performance management. Anda bisa menghubunginya pada alamat email : antariksa.yodhia@gmail.com Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Di-update setiap Senin pagi dengan sajian yang renyah, membumi, dan penuh inspirasi 4 Perjalanan Panjang nan Terjal untuk Meraih Financial Freedom Financial freedom adalah momen saat kita bisa duduk leyeh-leyeh di serambi rumah tiap sore, sementara income yang memadai terus datang mengalir. Financial freedom adalah saat kita tak perlu lagi bekerja sejak fajar hingga petang, namun penghasilan yang melimpah tetap datang dengan lancar. Kondisi financial freedom mungkin menjadi sejenis aspirasi bagi sebagian besar orang. Sebab dalam kondisi ini, kita tak lagi bekerja penuh letih mengejar uang (sudah ngos-ngosan mengejar, eh pas sudah tertangkap dapatnya cuman sedikit. Capek deh). Kondisi financial freedom bersifat sebaliknya. Uang-lah yang bekerja keras untuk kita; sementara kita-nya bebas jalan-jalan menikmati wisata kuliner atau tekun mengaji di Surau sepanjang hari. Namun tentu saja tak mudah mencapai tahapan financial freedom. Hanya orang-orang dengan mindset positif dan keteguhan hati yang bisa menembusnya. Sebab ada lima tahapan kunci yang perlu di-daki agar kita bisa mencapai puncak tangga : financial freedom. Berikut lima tahapan panjang yang sering dialami orang saat ingin berjuang mendaki tangga financial freedom. 5 Step 1 : Financial Deficit. Ini adalah jalan terjauh dari puncak financial freedom. Dalam tahap ini, penghasilan seseorang bahkan tidak cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Gaji hanya 4 juta sebulan; pengeluaran hidup sudah tembus 6 juta. Atau gaji 10 juta, tapi pengeluaran sebulan 15 juta. Defisit deh. Akibatnya orang tersebut berhutang, entah kepada famili, teman, kepada koperasi di kantor, atau ini dia : terjebak pada hutang kartu kredit (rentenir modern yang sangat brutal). Kartu kredit bisa menciptakan ilusi kekayaan yang semu dan mematikan : gesek sini, gesek sana. Setelah tagihan datang dengan bunga yang mencekik datang, kita baru terkaget-kaget. Aaaarrgghh, dari mana uangnya untuk bayar semua hutang ini. Uang dari Hongkong? Step 2 : Financial Sufficient. Dalam tahapan ini, penghasilan seseorang pas banget dengan pengeluaran. Begitu gaji datang, sudah langsung terpotong tagihan ini itu, dan sisanya pas – kadang mempet – untuk biaya hidup sebulan ke depan. Bagi orang-orang dalam tahapan ini, ide menabung adalah sebuah kemewahan. Apalagi yang bisa ditabung? Uang cap monopoli? Maka bagi orang dalam tahapan ini, gagasan tentang punya tabungan minimal 3 milyar saat usia 55 tahun, dianggap sebagai sebuah “petuah yang tak rasional”. Atau “petuah yang menghina akal sehat”. Bagi orang dalam tahapan ini, hidup yah biarkan saja mengalir apa adanya. Iya kalau mengalirnya ke atas. Kalau mengalirnya ke septic tank? 6 Step 3 : Financial Saving. Dalam tahapan ini, orang mulai bisa menyisihkan penghasilan untuk ditabung atau di-investasikan. Dalam ilmu perencanaan keuangan ada formula : 40% untuk biaya hidup; 30% untuk bayar tagihan kredit (kredit rumah, kredit sepeda motor, kredit mobil, dll); dan sisa 30% untuk ditabung atau di-investasikan. Jadi kalau orang itu punya penghasilan 10 juta, ia harus bisa menabung 3 juta. Kalau penghasilan 15 juta, maka 5 juta harus bisa ditabung/di-investasikan. Bagaimana caranya supaya disiplin investasi? Pakai fasilitas auto-debet. Setiap bulan secara otomatis, gaji/penghasilan kita di-debet untuk dialokasikan ke instrumen tabungan atau investasi yang kita pilih. Investasi auto debet sebaiknya ke reksadana (ulasan detil mengenai tema ini akan kita bahas di kesempatan lainnya). Bukan ke asuransi unit-link (alasannya : potensi return investasi kita termakan terlalu besar untuk penjual asurasinya. Ibarat kita untung 100 juta, yang 30 juta diambil oleh penjual asurasinya. Giliran investasinya rugi, kita semua yang menanggung). Step 4 : Financial Harvesting. Dalam tahapan ini, orang sudah mulai bisa memanen hasil investasi rutin yang ia lakukan dalam tahapan sebelumnya. Misal, ia punya reksadana senilai 200 juta, dan ternyata tahun ini ada return sebesar 20%, maka ia mendapatkan income tambahan sebesar 40 juta rupiah. Jika hasil ini di-investasikan kembali maka bisa menciptakan efek akumulatif yang signifikan. 7 Atau contoh lain : tabungan yang ia simpan telah dibelikan sebidang tanah di lokasi yang cukup strategis. Dalam waktu beberapa tahun, nilai jual tanah itu sudah naik sekitar 100%. Maka return sebesar 100% ini merupakan tambahan penghasilan yang ia dapatkan selain income tetap dari pekerjaan atau bisnisnya. Step 5 : Financial FREEDOM. Inilah tangga puncak dari kondisi finansial seseorang. Inilah saat seseorang telah memiliki investasi atau aset aktif yang mampu menghasilkan return yang memadai untuk membiayai kehidupannya sehari-hari (tanpa orang itu harus terus menerus bekerja lagi). Contoh sederhana : orang tersebut memiliki deposito senilai 3 milyar. Maka ia bisa mendapatkan return tahunan sebesar 150 juta – mungkin cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Atau misalnya orang itu punya aset kos-kosan di Jatinangor (dekat kampus Unpad) sebanyak 20 kamar. Dengan tarif 750 ribu per kamar, ia bisa mendapatkan penghasilan pasif (passive income) sebesar 15 juta per bulan – mungkin cukup untuk biaya hidupnya selama sebulan. Atau mungkin orang itu punya lima ruko di berbagai lokasi (Semarang, Jakarta, Bekasi) sebanyak 5 buah. Disewakan rata-rata 50 juta per tahun, maka ia bisa mendapatkan passive income sebesar 250 juta setahun. Deposito. Kamar kos-kosan. Ruko. Ini adalah contoh aset aktif yang membuat “uang bekerja untuk kita” – bukan kita yang termehek-mehek mengejar uang (sejak fajar menyingsing hingga petang menjelang). 8 Demikianlah lima tahapan kunci yang perlu di-daki sebelum berada pada puncak tangga : financial freedom. Saya tidak tahu dalam anak tangga yang keberapa Anda sekarang berada. Mungkin baru berada pada tahapan yang pertama (doa saya menyertai Anda) atau barangkali sudah nyaris ke tangga terakhir (rasa syukur saya atas keberhasilan Anda). Selamat pagi teman. Selamat bekerja. Selamat berjuang meraih jalan financial freedom. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Menghadirkan sajian renyah tentang motivasi, panduan bisnis dan pengembangan diri 9 Berapa Besar Penghasilan yang Harus Anda Peroleh untuk Bisa Hidup dengan Layak? Setiap tahun kita berharap gaji yang kita terima atau pendapatan dari usaha yang kita jalankan, bisa terus meningkat. Sebab, hey, harga barang-barang di sekitar kita terus merayap naik. Dan diam-diam tanpa kita sadari, selama ini pendapatan kita secara riil terus merosot gara-gara digerus angka inflasi yang tak kunjung henti. Lalu, berapa penghasilan atau pendapatan minimal yang harus kita peroleh untuk bisa hidup secara layak, ditengah kepungan angka inflasi yang tak pernah kunjung berhenti menari? 10 juta per bulan? 15 juta? Atau 30 juta? Mari kita sejenak luangkan waktu untuk dengan sungguh-sungguh menghitung berapa banyak kebutuhan hidup kita – demi meraih kehidupan yang penuh sejahtera nan bahagia…… Sebelum menelisik angka demi angka yang tersaji, ada sedikit catatan yang perlu dikedepankan. Hidup layak dalam bayangan saya adalah hidup yang cukup nyaman, mapan, dan tidak kekurangan secara finansial. Sebab dengan itu Anda baru bisa menikmati hidup dan tidur dengan nyenyak. Sebaliknya, jika Anda masih serba kekurangan, atau apalagi tiap bulan dimaki- maki debt collector lantaran tagihan kartu kredit yang macet; maka itu artinya Anda masih belum hidup layak (bahasa kampungnya : financially incompetent). 10 Perhitungan disini mengambil asumsi bahwa Anda sudah berkeluarga dengan dua anak (kalau Anda belum berkeluarga, maka angka-angka dibawah inilah yang kelak harus Anda penuhi). Mari kita mulai dengan biaya untuk kebutuhan hidup sehari–sehari. Biaya Kebutuhan Hidup Sehari-hari Berapa biaya kebutuhan hidup sehari-hari untuk sebuah keluarga dengan dua anak di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya atau Medan? Kebutuhan sehari-hari adalah untuk makan (diselingi sebulan sekali makan sekeluarga di mal); untuk membayar iuran keamanan, bayar listrik, air PAM, langganan koran, beli sabun, rinso, odol, dan juga jajan/uang saku anak-anak serta sumbangan kanan kiri. Estimasi saya, Anda mesti mengeluarkan uang sejumlah Rp 4 juta per bulan untuk kebutuhan ini. Biaya Pendidikan Anak Oke, sekarang banyak sekolah SD Negeri yang gratis dan murah meriah (lantaran anggaran pendidikan yang meroket). Namun kalau Anda ingin menyekolahkan anak Anda di sekolah swasta yang kredibel (seperti Al Azhar, Lab School atau sejenisnya), plus kursus ini itu, maka dengan dua anak kita akan menghabiskan anggaran sekitar Rp 1 juta/bulan untuk investasi masa depan ini. Biaya Transportasi dan Komunikasi Tarif tol terus merambat naik dan kemacetan makin membuat penggunaan bensin boros. Dengan asumsi Anda membawa mobil ke kantor, dan biaya bensin ndak ditanggung oleh kantor; maka kita bisa menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta per bulan untuk bensin, tol dan biaya parkir. 11 Ditambah pengeluaran pulsa telpon dan langganan internet speedy, kita akan spend sekitar Rp 2 juta untuk pos ini. Biaya Kredit Mobil Beruntunglah Anda yang mendapat fasilitas car ownership dari kantor Anda…..Sebab jika tidak, atau kalau ingin menambah mobil sendiri lagi, Anda mesti mengalokasikan anggaran sekitar 130 – 200 jutaan (inilah uang yang mesti kita keluarkan untuk mobil bagi keluarga muda seperti Avanza, Toyota Rush, atau Nissan Grand Livina). Jika Anda membelinya dengan kredit (65 % masyarakat kita membeli mobil dengan kredit) serta dalam jangka 5 tahun; maka itu artinya kita mesti mengalokasikan dana sekitar Rp 4 juta per bulan untuk keperluan ini. Biaya Kredit Rumah Anda tidak ingin selamanya tinggal di Pondok Mertua Indah, bukan? Beruntung kalau Anda dapat warisan rumah tinggal dari bokap atau nyokap. Sebab, tempo hari saya melihat iklan sebuah rumah mungil ukuran 4 L (lu lagi lu lagi karena saking kecilnya ukuran rumah) untuk keluarga muda di area BSD (Bekasi Sono Dikit, maksudnya) sudah mencapai harga sekitar 400 juta- an. Dengan jangka waktu 10 tahun, dan dengan suku bunga yang alamak kok makin melangit, maka Anda harus mengeluarkan sekitar Rp 4 juta untuk kredit “istana peristirahatan” Anda yang lu lagi lu lagi ini. TOTAL : Rp 15 juta per bulan. Ya, angka inilah jumlah total dari rincian pengeluaran diatas. Dan angka inilah yang menurut saya merupakan jumlah minimal yang harus Anda berdua penuhi untuk bisa membangun keluarga 12 yang layak dan kredibel di kota besar. Bagi Anda yang sudah mendapat penghasilan diatas angka 15 juta/bulan – congratulation. Bagi yang belum, maka segeralah berpikir keras dan ambil action untuk mencari cara memperoleh extra income (dengan halal tentunya). Berpikirlah secara kreatif untuk bisa menambah income. Lalu berikhtiar-lah dengan tekun, sebab Tuhan itu Maha Kaya. Kalau Anda kompeten, kreatif, dan tekun berusahan plus tekun berdoa, insya Allah rezeki yang barokah akan mengalir pada Anda. Think positive. Be optimistic. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Berisi sajian bermutu tentang strategi bisnis dan management skills. Isinya dahsyat dan menggugah. 13 Jika Anda Ingin Meraih Financial Freedom, Silakan Baca Tulisan Ini Menjadi kaya barangkali merupakan sebuah harapan yang digenggam oleh banyak orang. Sebab, tanpa kekayaan dan penghasilan yang cukup melimpah, kita bisa termehek - mehek mengikuti kenaikan harga barang yang terus meliuk-liuk. Tanpa rezeki yang terus mengalir, kredit sepeda motor atau mobil yang kita ambil bisa macet di tengah jalan. Atau mungkin kita dipaksa untuk terus nebeng di rumah kontrakan (dan sudah rumah kontrakan, sempit lagi. Doh.) Dan ah, bukankah anak-anak kita butuh pendidikan yang layak. Tanpa nafkah yang memadai, bagaimana kita yakin mereka akan punya masa depan yang kinclong? Jadi apa kiat dan rahasia menjadi kaya, kalau begitu? Oke, sebentar lagi jawabannya akan dengan renyah disajikan disini. Namun sebelum Anda melanjutkan membaca tulisan ini, silakan tundukkan kepala, dan awali hari kerja Anda di pagi ini dengan doa : mudah-mudahan rezeki yang penuh keberkahan akan terus mengalir dalam diri kita semua. Studi mengenai wealth management (atau cara mengelola kekayaan) menyimpulkan bahwa ada satu rahasia besar namun sangat simpel yang membuat orang bisa menjadi kaya raya. Mereka menyebut cara simpel itu sebagai : leverage (daya ungkit). Atau : X Factor. Dalam bahasa kita disebut sebagai : faktor kali. 14 Tiga contoh sederhana berikut akan menjelaskan apa itu faktor kali. Tempo hari ada anak muda lulusan D-3 usia 35-an yang membuka lapak untuk berjualan es cendol di sudut pusat perbelanjaan. Ia bercerita keuntungan bersih dari jualan es cendol itu sebulan mencapai 3 juta. Hmm. Lumayan. Ya sangat lumayan pak, sebab saya punya 10 lapak, ujarnya dengan sumringah. 10 lapak itu adalah faktor kali. Dan dengan itu, dalam sebulan ia bisa menggenggam 30 juta dengan mulus. Contoh lain adalah rekan saya yang punya usaha menyediakan jasa outsourcing tenaga office boy atau OB (sekarang mana ada office boy yang jadi karyawan permanen). Untuk setiap tenaga OB ia meminta fee 50 ribu/bulan dari kliennya – sebuah angka yang lazim diberlakukan oleh penyedia jasa outsourcing. Angka yang cukup kecil sebenarnya. Cuman, teman saya itu memasok 1000 tenaga OB setiap bulannya, di berbagai pabrik yang tersebar di Jabodetabek. 1000 orang OB itu adalah faktor kali. Dan dengan faktor kali ini, rekan saya itu mendapat 50 juta per bulan dengan mulus. Alhamdulilah. Contoh terakhir adalah anak muda yang kena PHK, dan kemudian mendirikan usaha berjualan obat herbal secara online. Melalui web yang melintas batas dunia maya, ia berhasil menjaring 100-an reseller yang menjadi partner usahanya. 15 100-an reseller itu adalah faktor kali. Dan inilah yang membuat anak muda penjual obat herbal itu bisa mendapat keuntungan bersih Rp 25 juta per bulan (dan oh ya ia juga baru saja membeli Kijang Innova terbaru). Dari tiga contoh diatas menjadi jelas apa itu FAKTOR KALI. Inilah sebuah faktor yang membuat rezeki kita bisa meningkat berkali-kali lipat; tanpa kita harus melipatgandakan tenaga/diri kita. Sebab dengan faktor kali, kita memanfaatkan orang lain untuk menggelembungkan kekayaan kita. Nah sayangnya, bagi Anda yang bekerja sebagai karyawan, Anda tidak bisa menemukan faktor kali itu. Bahkan sebaliknya, Anda-lah yang dimanfaatkan (atau di-eksploitasi) untuk menjadi faktor kali bagi juragan pemilik bisnis dimana Anda bekerja. Juragan pemilik bank misalnya, bisa tidur leyeh-leyeh namun bisnisnya tetap terus mekar. Sebab ribuan kantor cabang dan karyawan didalamnya, telah menjadi faktor kali yang melipatgandakan kekayaan sang juragan besar itu. Wah jadi gimana dong kalau ternyata selama ini kita ternyata hanya menjadi “korban faktor kali”. Jawabannya memang sudah jelas : kita hanya akan bisa mendapatkan faktor kali, jika kita punya usaha atau bisnis sendiri. Menjadi entrepreneur atau berwirausaha. Atau ya seperti contoh diatas tadi : berjualan es cendol, atau menyediakan jasa OB atau membikin usaha penjualan obat herbal. FAKTOR KALI. Inilah sebuah prinsip yang sangat simple, namun memiliki peran yang amat besar untuk membawa kekayaan dalam kehidupan kita. 16 Silakan terapkan prinsip sederhana itu, dan mudah-mudahan Anda semua bisa menjadi orang-orang KAYA : kaya harta, kaya ilmu dan kaya pahala. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Blog ini setiap bulan dikunjungi 100.000 visitors. Sebab isinya memang inspiratif dan mudah dicerna. 17 Kenapa pada Saat Usia 55, Anda Harus Punya Tabungan Minimal Rp 3 Milyar? Hanya 7 % pekerja di Indonesia yang paham dan sudah menyiapkan masa pensiun dengan cermat. Itu artinya ada 93% yang tak punya bayangan bagaimana hidup mereka sesudah memasuki usia pensiun. Demikian survei terbaru yang dilakukan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) tentang kesiapan pekerja di tanah air dalam menghadapi masa pensiun. Angka itu agak mencemaskan. Akan ada banyak orang – termasuk mungkin Anda – yang jatuh miskin saat memasuki masa pensiun. Tabungan kian menipis, tak lagi punya penghasilan, dan dipaksa untuk bekerja serabutan saat usia kian menua. Sejumlah survei menunjukkan manusia Indonesia itu buruk dalam soal perencanaan hidup. Yah, kita serahkan saja pada Yang Diatas. Rezeki sudah ada yang mengatur. Jika kalimat ini disertai dengan ikhtiar yang cermat dan sistematis, maka statement itu baru punya makna. Ikhtiar yang sungguh-sungguh (sebab Tuhan tidak akan mengubah nasib kaum yang tidak mau mengubah nasib dirinya sendiri). Yang lebih sering kalimat itu diucapkan sekedar sebagai bentuk “pelarian dari kenyataan hidup yang pahit”. Kalimat menghibur diri yang kosong makna, sebab tak disertai dengan hitungan cermat bagaimana kelak akan hidup sesudah pensiun. Baru sadar kalau uang di tabungan benar-benar nol. 18 Yang lebih pahit : kalimat yang terkesan bijak itu digunakan untuk menutupi ketidakmampuan dirinya dalam melakukan perencanaan keuangan yang sistematis. Terus saja menghibur diri dengan kalimat indah, sampai suatu hari tersadar, tak ada lagi harta yang bisa diwariskan kepada anak-anak. Yang tak kalah pahit : hitungan kebutuhan tabungan saat Anda memasuki usia pensiun memang agak menyeramkan. So, mari kita coba lakukan perhitungan. Asumsi perhitungan ini adalah sekarang usia Anda 30 tahun dan punya dua anak (artinya Anda akan pensiun sekitar 26 tahun lagi). Biaya besar yang akan muncul dan harus disiapkan saat Anda memasuki usia 50-an tahun adalah menikahkan dua anak Anda. Biaya pernikahan sederhana sekarang menghabiskan tak kurang Rp 100 juta/anak. Dua puluh tahun lagi, saat dua anak Anda siap menikah, mungkin biayanya sudah tembus Rp 300 juta (estimasi yang konservatif mengingat inflasi yang tinggi tiap tahun). Artinya biaya pernikahan dua anak Anda itu adalah Rp 600 juta (uang sebesar ini saja berat, boro-boro membelikan dua rumah buat dua anak tercinta). Biaya lain adalah biaya hidup sehari-hari untuk Anda dan pasangan Anda. Sekarang biaya hidup untuk dua orang di kota besar mungkin sekitar Rp 5 juta/bulan (hitungan yang sangat minimal). 19 26 tahun lagi saat Anda pensiun, berapa biaya hidup untuk Anda dan pasangan Anda? Mungkin sudah sekitar Rp 15 juta/bulan (kembali estimasi yang konservatif, sebab inflasi per tahun = 8%). Sekedar info : harga sepeda motor Honda baru naik sekitar 5 kali lipat dalam kurun waktu yang sama. Artinya, saat memasuki masa pensiun, Anda butuh uang Rp 15 juta / bulan sekedar untuk bisa makan dan hidup (belum jika sakit sebab usia kian tua). Untuk biaya hidup setahun, berarti dibutuhkan dana Rp 180 juta (15 juta x 12 bulan). Nah, berapa tahun Anda dan pasangan akan bertahan hidup? Kini usia ratarata orang Indonesia adalah 70 tahun. Artinya, sejak pensiun di usia sekitar 56, secara rata-rata, Anda masih akan terus hidup hingga 14 tahun lamanya. Tabungan yang mesti disiapkan berarti Rp 180 juta x 14 tahun = Rp 2.5 milyar. Ditambah biaya pernikahan dua anak Rp 600 juta, menjadi Rp 3.1 milyar. Jadi jika usia Anda sekarang 30 tahun, maka Anda harus menyiapkan dana sebesar minimal Rp 3 milyar agar masa tua Anda tidak dihabiskan di jalanan, merana nasibnya dan terlunta-lunta. Jika hanya dari tabungan, tidak akan cukup. Misal Anda menabung sebulan Rp 1 juta, setahun hanya dapat Rp 12 juta. Dalam waktu 26 tahun menabung, Anda akan dapat uang “hanya” Rp 312 juta (jauh dari kebutuhan yang Rp 3 milyar). Kepala makin pening bukan. 20 Maka mengucapkan kata : rezeki mah sudah ada yang ngatur, adalah kalimat indah yang paling mujarab untuk membuat pening hilang buat sementara. Dan kelak akan datang lagi Tak ada pilihan lain : sisa uang Anda jangan ditabung, tapi DI-INVESTASI-KAN. Sebab perencana keuangan bilang, yang sanggup mengejar kenaikan inflasi adalah jika uang Anda di-investasikan ke tempat yang produktif. Pilihannya investasi bisa ke reksadana (minimal investasi hanya Rp 200 ribu; tapi rutin setiap bulan baiknya). Atau ke ke sektor properti (ruko di tempat strategis yang ada di kampung halaman mungkin?) Atau uang tabungan yang ada digunakan untuk modal usaha yang profitabel. Bisa buat buka kos-kosan sehingga kelak dapat passive income yang memadai. Atau, mungkin untuk ikut usaha franchise kuliner. Makin muda Anda menyiapkan dana untuk pensiun, makin bagus. Plan your future life properly. Mungkin jika kepepet, akhirnya hidup saat usia tua bergantung pada kiriman uang dari anak-anak Anda. Sebaiknya dihindari jika memungkinkan. Sebab anak-anak Anda kelak juga butuh biaya yang tak sedikit untuk membiayai keluarga dan cucu-cucu Anda. Saya tak tahu kapan Anda akan pensiun. Mungkin 20 tahun lagi, 10 tahun atau 8 tahun lagi. Namun luangkan waktu sejenak untuk berpikir suingguh- sungguh : apa yang harus Anda lakukan agar Anda mendapat rezeki yang barokah senilai minimal Rp 3 milyar. 21 Agar kelak saat usia 60 tahun, Anda tak lagi harus naik busway setiap pagi, berjejalan menembus kemacetan. Demi sesuap nasi. Agar hidup Anda bisa diteruskan. Hingga ajal menanti. Selamat pagi. Mari kita membaca Al Fatehah bersama-sama. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Blog ini pernah terpilih sebagai BLOG BISNIS TERBAIK seINDONESIA dalam Pesta Blogger Indonesia 22 Jika Anda Ingin Hidup Susah dan Miskin, Tulisan ini Tidak Perlu Anda Baca Tulisan saya minggu lalu yang berjudul : “Kenapa Saat Berusia 55 Tahun, Anda Harus Punya Tabungan Minimal 3 Milyar”, banyak di-share oleh pembaca dan mengundang banyak komentar (baik via blog, facebook ataupun Twitter). Dulu, tulisan saya yang berjudul : “Jika Gaji Hanya 7 juta/Bulan, Kapan Anda Bisa Beli Rumah Sendiri”, juga ramai mengundang komentar. Dari ratusan komentar yang ada, sejatinya kita bisa mengungkap salah satu misteri kunci dalam hidup : kenapa seseorang terus hidup susah dan serba kekurangan, dan kenapa yang lainnya bisa hidup berkelimpahan. Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak Anda semua melacak dan membongkar misteri itu. Dari ratusan komentar yang ada, terdapat tipikal satu jenis komentar yang esensinya sama. Meski dengan berbagai kalimat yang berlainan, esensi dari komentar itu bisa disarikan sbb : “Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas…..ngapain punya tabungan milyaran kalau tidak bahagia, malah membuat anak-anak saling berebut harta. Hidup itu secukupnya saja, yang penting bahagia. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..” 23 Tipe komentar seperti diatas juga lazim ditemui di berbagai forum dan media lainnya saat ada tulisan dengan tema kekayaan. Tidak hanya di blog ini saja. Saya berulangkali menemui komentar seperti itu di berbagai forum dan media lain. Dan ini yang mau saya sampaikan : ada tiga kesalahan yang amat serius dengan esensi dibalik komentar yang kelihatannya sok bijak itu. Mari coba kita bongkar satu per satu. Error #1 : Mental Block. Komentar seperti diatas sejatinya merefleksikan “alam bawah sadar” yang bernaung dibalik pikiran sang komentator. Dan ini yang muram, bahasa alam bawah sadar yang muncul dari kalimat itu adalah ini : kekayaan adalah sesuatu yang tabu dan layak dijauhi. Dan persis disitu masalahnya : alam bawah sadar itu bersifat laten dan amat powerful. Dan ketika alam bawah sadar itu berisikan sikap apriori terhadap harta, maka raga hidup nyata kita benar-benar akan dijauhkan dari harta dan rezeki. Dengan kata lain, alam bawah sadar yang laten itu diam-diam menjadi “mental block” bagi raga kita untuk “berdekatan dengan harta dan kekayaan”. Ini soal serius. Sebab jika alam bawah sadar kita bersifat apriori terhadap harta/rezeki, maka itu yang kemungkinan besar menjadi penyebab kenapa selama ini hidup kita stuck – going nowhere. 24 Berkali-kali saya sudah menulis tentang the power of mindset : tentang kekuatan tersembunyi dari pikiran kita. Jika pikiran kita bersikap terbuka dan apresiatif terhadap harta dan kekayaan, akan ada kekuatan positif yang akan mendekatkan kita dengan sumber-sumber rezeki yang tak terduga. Sebaliknya, jika pikiran – apalagi alam bawah sadar kita – bersifat apriori terhadap harta (seolah-olah harta itu sumber keburukan) dan karena itu layak dijauhi, maka pikiran negatif itu akan memberikan sinyal pada alam semesta. Sinyal kuat agar hidup nyata Anda benar-benar dijauhkan dari harta dan rezeki. Itulah kenapa kita harus berhati-hati dengan komentar seperti diatas. Jika Anda sering berkomentar atau setuju dengan komentar seperti diatas, mungkin itu salah satu sebab kenapa : karir Anda mentok, gaji Anda ndak naik-naik, penghasilan pas-pasan, atau mau usaha tapi ndak kunjung sukses atau ndak berani memulainya. Sebab alam bawah sadar Anda memang tidak menghendaki Anda untuk sukses dan bisa mengumpulkan tabungan sebesar 3 milyar. Error #2 : Prasangka Negatif. Mari coba kita baca ulang petikan tipikal komentar tadi : “Ngapain punya tabungan milyaran kalau tidak bahagia, malah membuat anak-anak saling berebut harta. Hidup itu secukupnya saja, yang penting bahagia. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..” 25 Kalimat dalam komentar itu sungguh pekat dengan prasangka buruk dan kedengkian. Prasangka buruk bahwa seolah-olah harta hanya akan membawa ketidakbahagiaan dan masalah. Kedengkian yang amat halus : biar saya tidak sekaya mereka, tapi lihat, mereka hidupnya tidak bahagia. Dan kalimat itu bukan saja pekat dengan prasangka buruk dan kedengkian, tapi juga ngawur : membuat generalisasi seolah-olah semua orang kaya pasti bermasalah dan tidak bahagia (jika komentatornya dulu ikut mata kuliah Statistik, pasti tidak akan lulus). Nyatanya, puluhan riset empirik dengan ratusan ribu responden menunjukkan sebaliknya : kondisi finansial seseorang merupakan salah satu elemen paling kunci dalam menentukan kenyamanan dan kebahagiaan hidup. Simpel saja : ke kantor dengan naik Fortuner sambil di-setir driver itu rasanya kok lebih nyaman dan happy dibanding harus pakai sepeda motor (kehujanan lagi) atau berjejalan di metro mini. Kalau ada yang bilang, berjejalan naik metro mini lebih membahagiakan, maka ada dua kemungkinan : orang itu sedang menghibur diri supaya hidup tidak makin pahit. Atau orang itu sedang halusinasi. Tapi poin yang lebih serius adalah ini, komentar “…..ngapain hidup kaya, kalau hidupnya tidak bahagia” – menunjukkan kesombongan (seolah-olah gue pasti lebih happy dibanding mereka) dan prasangka buruk (seolah-olah banyak harta pasti akan membawa masalah – sebuah pikiran yang ajaib). 26 Dan kita tahu : kesombongan dan prasangka buruk (apalagi yang dibungkus dalam kalimat yang sok suci dan bijak) adalah resep yang akan kian menjauhkan kita dari rezeki yang berlimpah. Error # 3 : False Assumption. Kesalahan yang terakhir ini adalah error yang paling serius. Coba simak kembali petikan komentarnya : “Hidup ini tidak hanya sekedar memikirkan harta mas. Toh, harta tidak akan dibawa mati…..” Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah kesalahan serius yang berangkat dari prasangka negatif tentang harta kekayaan. Harta insya Allah akan kita bawa mati jika harta itu kita belanjakan untuk menyekolahkan 1000 anak yatim, membangun mesjid, memberangkatkan haji orang tua, sedekah untuk orang tidak mampu, membantu korban banjir, membeli 10.000 buku untuk perpustakaan, dst, dst. You get my point, right? Mengatakan “harta tidak akan dibawa mati” adalah salah kaprah yang berangkat dari asumsi negatif : bahwa harta hanya melulu akan dipakai foyafoya dan hura-hura. Betapa salahnya. Betapa naifnya asumsi itu. Komentar : “toh harta tidak akan dibawa mati” sudah terlalu sering kita dengar. Sebuah kalimat, yang kembali, secara implisit berangkat dari premis bahwa harta itu penuh dengan evil (keburukan), dan karena itu layak dijauhi. 27 Sayangnya, premis itu tidak sesuai dengan fakta. Sejumlah riset empirik membuktikan : semakin kaya Anda, maka semakin Anda rajin dan banyak bersedekah pada orang lain. Penelitian itu berimpitan dengan studi lainnya yang menyebut : semakin kaya Anda, maka Anda akan cenderung makin banyak bersyukur. Penelitinya menulis : kemungkinan besar, orang yang makin kaya itu makin banyak bersedekah sebagai wujud rasa syukur mereka yang makin besar (Sonya, 2007). Demikianlah tiga jenis error yang layak dicermati dari tipikal komentar yang sudah saya sebut diatas. Apa kaitannya dengan alam bawah sadar, mindset dan sumber rezeki juga sudah di-ulik. Be careful with your mindset. Because your mindset will define your future life. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Blog ini pernah terpilih sebagai BLOG BISNIS TERBAIK seINDONESIA dalam Pesta Blogger Indonesia 28 Kenapa Motivasi dan Tekad untuk Mengubah Nasib itu Mudah Menguap? Setiap awal tahun mungkin kita punya sejenis angan dan rencana agar tahun ini, kehidupan menjadi lebih konclong dan lebih menggairahkan. Kita menyimpan motivasi dan tekad untuk mengubah nasib, demi sejarah hidup yang lebih sejahtera. Kita punya tekad untuk melakukan ini dan itu. Kita termotivasi untuk mewujudkan angan ini dan aspirasi itu. Lalu, entah mengapa, sejalan dengan sepoi angin yang terus berlalu, motivasi dan tekad bulat itu selalu menguap entah kemana. Motivasi dan tekad bulat itu pelan-pelan hanya berbuih fatamorgana. Kenapa bisa begitu? Ya kenapa motivasi dan tekad untuk mengubah nasib itu lebih cepat menguap daripada yang kita sangka? Salah satu penyebabnya layak di-ulik disini. Sejumlah studi yang ekstensif dalam ilmu perilaku (behavior science) mengungkap fakta muram : willpower (tekad/kemauan) untuk berubah pada manusia itu memang terbatas jumlahnya. Roy Baumeister dalam bukunya yang berjudul Willpower – Rediscovering the Greatest Human Strength menulis : willpower itu ternyata punya prinsip kerja seperti reservoir (semacam cadangan air dalam tangki). 29 Jadi bayangkan, willpower kita itu bekerja seperti simpanan air dalam botol. Dan studi yang dilakukan Baumeister menunjukkan, cadangan willpower itu terkuras dengan cepat saat kita dihadapkan pada tantangan sehari-hari yang selalu menerpa kita. Tantangan rutin seperti : menelusuri kemacetan di jalanan, disergap berita- berita buruk yang terus mengalir, menghadapi beban pekerjaan yg menumpuk; semuanya membuat cadangan willpower mudah menguap. Dan sayangnya, willpower dalam tubuh kita tidak bisa dibagi-bagi per jenis tantangan. Misal : cadangan willpower yang ini untuk menghandle kemacetan, yang bagian satunya lagi untuk mengelola beban kerja yang menumpuk, dan satunya lagi dialokasikan untuk mengelola tugas-tugas tambahan. Tidak, willpower dalam tubuh manusia tidak bisa dikapling-kapling seperti itu. Begitu otak kita dibebani stress karena macet/sekolah/kerjaan/gaji kurang, maka reservoir willpower dalam tubuh kita langsung menguap karena habis terpakai. Apa artinya? Tak lagi tersisa willpower yang amat dibutuhkan untk mewujudkan tekad dan rencana mengubah nasib. Sebab cadangan willpower yang terbatas itu, sudah “terserap habis” untuk meng-handle beragam tantangan hidup tadi (kemacetan di jalanan, beban pekerjaan, mikir gaji yang terus kurang, dst). 30 Dengan kata lain, tekad kuat untk melakukan ini dan itu lenyap karena cadangan willpower sudah keburu habis. Itulah kenapa rencana indah Anda lebih sering hanya akan jadi angan belaka. Pertanyaannya : lalu bagaimana caranya agar cadangan willpower kita tetap penuh (seperti air dalam botol yang selalu penuh)? Dan tidak terbuang sia- sia? Tidak ada jalan yang mudah. Beberapa diantaranya mungkin layak dipertimbangkan. Langkah Pertama : hindari berita-berita/informasi yang hanya menguras emosi dan negative mindset. Studi -studi tentang perilaku menulis : berita/informasi yang menyulut emosi mudah sekali menguras cadangan willpower kita. Sering tanpa kita sadari. Membaca atau menyimak berita yang menyulut emosi seperti membuang willpower kita yang amat berharga ke tempat yg sia-sia. Langkah Kedua : hindari jalanan yang macet. Oke, bagian yang ini mungkin tak mudah bagi yang bekerja dan tinggal di kota-kota besar. Namun studi yang dilakukan Gallup menyebut : kemacetan di jalanan merupakan salah satu media yang ampuh untuk menguras energi willpower manusia. Kemacetan membuat begitu banyak cadangan willpower tumpah di jalanan dengan sia-sia. 31 Dari studi tersebut mungkin muncul sebuah korelasi yang muram dan mengejutkan : tingkat motivasi seseorang sesungguhnya amat dipengaruhi oleh derajat kemacetan jalanan yang ia hadapi. Bekerja dari rumah, atau pindah ke kampung halaman yang relatif sepi; adalah langkah terbosan yang barangkali kudu dengan berani dilakukan. Demi menjaga agar cadangan willpower tidak tercecer di jalanan dengan sia-sia. Langkah ketiga : rutin berolahraga ternyata punya impak positif bagi upaya memelihara willpower (demikian sejumlah studi yang termuat dalam buku Baumeister tadi). Rutin olahraga artinya minimal 4 kali dalam seminggu berolahraga selama 30 menit. Semua sudah tahu dampak positif olahraga bagi kesehatan jasmani. Yang belum banyak diungkap : secara mengejutkan, rutin olahraga juga punya dampak signifikan bagi “ketangguhan willpower dan motivasi” seseorang. Orang yang rutin olahraga terbukti tidak mudah menyerah, dan lebih sanggup memelihara level motivasinya dalam jangka lama dibanding yang malas olahraga. Rutin olahraga barangkali jauh lebih ampuh untuk memelihara motivasi seseorang dibanding ikut sepuluh kali seminar motivasi oleh para motivator. Langkah keempat atau terakhir : rutin bangun saat fajar belum menyingsing, dan lalu melakukan ritual bersyukur pada Sang Ilahi; juga terbukti efektif untuk menjaga willpower (kekuatan tekad). Dalam tradisi Islam, ritual ini mungkin berujud dalam bentuk shalat Tahajud. 32 Studi yang dilakukan Sonya Lyubormisky (2007) menyebut fakta : rutin melakukan ritual bersyukur (gratitude ritual) saat keheningan pagi/fajar, terbukti membuat seseorang lebih tangguh dalam menjaga willpower. Orang yang rutin melakukan ritual bersyukur terbukti lebih happy dalam menjalani hidup, dan lebih efektif dalam memelihara level kekuatan tekadnya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Demikianlah, ulasan tentang kekuatan tekad, tentang WILLPOWER. Kita sekarang tahu, willpower itu mudah menguap. Namun kita juga tahu, bagaimana cara untuk memelihara agar willpower itu tetap terjaga. Tekad dan motivasi Anda untuk mengubah nasib ke arah yang lebih baik amat tergantung pada kekuatan WILLPOWER Anda. Maintain your willpower to redefine your future history. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Berisi sajian bermutu tentang strategi bisnis dan management skills. Isinya dahsyat dan menggugah. 33 100 Langkah untuk Tidak Miskin : Ayunan Langkah Jitu untuk Membuat Anda Makmur Anda orang idealis dan ingin ikut membantu program pemberantasan kemiskinan di tanah air? Ada satu cara paling jitu yakni : membuat diri Anda sendiri untuk tidak masuk golongan orang miskin. Benar sodara-sodara, jangan sampai kebangkitan kelas menengah Indonesia yang riuh rendah ini meninggalkan Anda jauh di belakang. Jangan sampai lentingan kemakmuran yang terus melaju di negri ini, meninggalkan Anda terpuruk dalam bayang-bayang kemiskinan. Dalam sajin kali ini, saya mau berbagi beragam langkah ampuh yang bisa membuat kita tidak jatuh miskin. Kalau Anda mau miskin, jangan teruskan membaca tulisan ini. Kalau mau makmur, ya monggo. Silakan di-seruput dulu teh hangatnya. Sajian kali ini sejatinya berangkat dari sebuah buku keren berjudul : Untuk Indonesia yang Kuat : 100 Langkah untuk Tidak Miskin. Buku ini ditulis oleh financial independent panner kondang Ligwina Hananto. Dalam buku bagus ini, Ligwina Hananto mengeskplorasi pentingnya kesadaran finansial bagi keluarga muda kelas menengah di Indonesia. Kesadaran pengelolaan keuangan keluarga yang rapi dan jitu sungguh krusial. Agar kita tidak terus termehek-mehek dalam urusan finansial : tabungan cuma 34 5 juta perak (oh), mau nyicil rumah ndak sanggup (ah), dana pendidikan anak belum kepikir (doh), apalagi boro-boro beli emas untuk investasi (dah). Bagian yang paling menarik dari buku itu saya kira adalah ketika Ligwina mendedahkan 100 Langkah untuk Tidak Miskin. 100 langkah ini dimulai dari no 1 (yang paling basic), terus meningkat ke langkah 50 (menuju makmur) hingga langkah 100 (dimana financial freedom tergapai dengan penuh kegemilangan). Dalam sajian ini, saya coba mengulik beberapa langkah saja yang dibeberkan dalam buku itu; lengkap dengan nomer urutnya (so, urutannya melompatlompat karena nomer urutan saya ambil sesuai yang ada dalam buku). Langkah 1 : Memiliki Penghasilan. Ini langkah pertama paling basic yang dicantumkan dalam 100 langkah untuk tidak menjadi miskin. Benar sekali, punya penghasilan (sukur jumlahnya besar) adalah langkah paling awal dan hakiki untuk merancang kemakmuran. Kalau ndak punya penghasilan, mau makan apa? Lalu, berapa penghasilan yang memadai itu? Kebetulan saya sudah pernah membahasnya disini (Berapa Penghasilan Minimal untuk Hidup dengan Layak?). Bocoran jawabannya : 15 juta per bulan. Jangan terkejut dong. Langkah 5 : Utang Kartu Kredit Lunas Setiap Bulan. Nah ini nih. Faktanya, sekarang banyak karyawan/manajer/pengusaha yang terjerat utang kartu kredit dengan beban bunga yang oh tega nian kau cekik leherku. 35 Yang salah ya yang pegang kartu kredit, bukan bank-nya : gesek sana, gesek sini, seolah-olah uang dari langit akan turun untuk melunasinya. Memang uang dari hongkong?? Langkah 38 : Mampu Menyisihkan 20% Penghasilan Bulanan untuk Investasi. Wah sedap ini. Apalagi jika Anda sudah punya penghasilan 15 juta sebulan seperti syarat diatas. Artinya, tiap bulan Anda bisa alokasikan 3 juta untuk investasi (entah untuk beli emas atau reksadana). Dengan fasilitas auto debet, kita bisa secara otomatis mengalokasikan dana setiap bulan untuk investasi (auto debet membuat kita lebih disiplin). Jika dibelikan reksadana, setiap bulan 3 juta, mulai usia 35 tahun hingga pensiun di usia 56 tahun, maka hasilnya bisa amat mencengangkan (dengan asumsi pertumbuhan reksadana sama seperti 20 tahun terakhir). Tapi mas, saya ndak sanggup menyisihkan 3 juta per bulan. (*Lalu mendadak hening. Langit terasa muram. Dan pandangan mata kosong menatap masa depan yang terasa begitu panjang*). Langkah 62 : Mencapai Total Aset Lancar Rp 1 Milyar. Aset lancar artinya mudah di-uangkan seperti emas, tabungan dan reksadana (tidak termasuk tanah dan rumah). “Wah saya ndak mungkin mendapatkan uang segitu besar mas”. 36 HATI-HATI dengan ALAM BAWAH SADAR ANDA. Kalau reaksi kalimat seperti itu yang muncul di benak Anda persis ketika membaca langkah ke 62 diatas, maka bielieve me, Anda memang tak akan pernah mencapainya. INGAT, reaksi dalam hati adalah indikasi mindset dan alam bawah sadar Anda. Kalau reaksi Anda negatif, bisa jadi itu pertanda bahwa mindset Anda memang akan terus membawa Anda dalam jalur kemiskinan dan kekurangan. Kalau reaksi Anda ketika membaca langkah ke 62 adalah seperti ini : “Hmm….banyak juga ya….namun Insya Allah saya akan mampu mencapainya sebelum usia 40 tahun…..”, maka alam semesta akan mendengarkannya, dan pelan-pelan akan menuntun Anda untuk benar-benar meraihnya. Langkah 100 : Penghasilan Pasif Lebih Besar daripada Pengeluaran Bulanan. Ini langkah terakhir, dan inilah yang disebut sebagai “financial freedom”. Anda duduk leyeh-leyeh, uangnya terus mengejar Anda (bukan Anda yang terus menerus mengejar uang. Cape deh). Penghasilan pasif mungkin bisa didapat dari bunga deposito, puluhan ruko yang disewakan, seratus kamar kos-kosan di Jogjakarta, bisnis yang sudah berjalan sendiri karena sistem sudah solid, atau mungkin juga karena Anda dapat warisan sawah 10 hektar dari bokap di kampung. Demikianlah sejumlah langkah dari 100 langkah untuk menuju kemakmuran. 100 langkah yang diuraikan dalam buku itu mungkin perlu di-laminating dan dibaca berulang setiap enam bulan sekali : jadi reminder agar kita terus 37 bekerja dengan cerdas dan keras untuk menggapai financial freedom yang sejati. Selamat bekerja teman-teman. Take your steps to reach your financial dreams. www.strategimanajemen.net Blog ini setiap bulan dikunjungi 100.000 visitors. Sebab isinya memang inspiratif dan mudah dicerna. 38 Empat Pilihan Investasi Top untuk Masa Depan yang Sejahtera Meracik persiapan guna menata masa depan yang sejahtera barangkali merupakan lelakon yang kudu disuntuki. Kelak kita pasti akan berkeluarga. Dan kelak anak-anak kita pasti juga akan membutuhkan biaya hidup dan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Tanpa persiapan finansial yang solid, kita mungkin bisa mencederai amanah untuk membimbing anak-anak kita dalam menata kehidupannya. Nah, salah satu persiapan yang bisa diracik adalah melakukan kegiatan investasi secara pas. Tentu saja syaratnya adalah : kita mempunyai tabungan yang memadai untuk di-investasikan. Kalau tidak ada sisa tabungan, atau malahan setiap bulan tekor, yah lalu apa dong yang mau di-investasikan? Cuma sekeping ilusi? Oke, semangat. Saya yakin Anda semua pasti punya tabungan yang cukup memadai untuk di-investasikan. Kalau begitu, berikut empat alternatif pilihan investasi yang layak dipertimbangkan. Pilihan investasi 1 : Waralaba. Salah satu pilihan investasi yang rancak adalah menggunakan tabungan Anda sebagai modal untuk memulai usaha/bisnis. Jika kita sibuk bekerja dan ndak punya banyak waktu, maka pilihan yang oke adalah dengan memulai usaha melalui waralaba (franchise). 39 Usaha melalui waralaba merupakan pilihan yang relatif aman sebab biasanya sudah menyediakan sistem dan proses bisnis yang baku; juga pilihan produk yang sudah jelas. Dengan demikian proses untuk menjalankannya tidak akan serumit jika misalnya kita memulai bisnis sendiri dari nol. Kini banyak peluang waralaba dengan modal yang relatif terjangkau. Hanya dengan modal investasi sekitar 10 sd 25 jutaan, kita sudah bisa memulai usaha baru. Tawaran produknya beragam : mulai dari usaha rumah makan, minuman ringan, jasa pendidikan hingga spa and salon. Kalau kita pas memilih produk, dan lokasi usaha juga strategis, potensi keuntungannya lumayan mak nyus. Pilihan investasi 2 : Properti. Bayangkan impian yang rasanya gurih ini : andaikan kita punya lima ruko, semuanya di lokasi yang pas, dan kita sewakan masing-masing dengan nilai Rp 5 juta/bulan; maka setiap bulan kita bisa punya passive income sebesar Rp 25 juta tunai. Pertanyaannya : dari mana kita memiliki lima ruko itu? Dari langit? Iya ndak dong. Pasti dari usaha yang tekun, dimulai dengan ruko pertama. Kalau sudah ada hasil, belikan yang kedua, ada hasil, lalu belikan ruko yang ketiga, dan seterusnya hingga kita memiliki “peternakan ruko” (masak kita bisanya cuma kaget kok ruko ada dimana-mana yak…kayak laron aja. Sekale-kale boleh dong punya tekad menjadi “juragan ruko”). Cara untuk memulai membeli ruko yang pertama simpel : ambil kredit KPR dari bank untuk membeli ruko, dan kemudian ruko itu segera kita sewakan. Nah uang hasil sewanya ini langsung kita setor untuk melunasi kredit setiap 40 bulannya. Selesai dah. Dalam lima tahun ruko itu bisa lunas kreditnya, dan resmi jadi milik kita, tanpa kita mesti terlalu banyak keluar dana investasi. Pilihan investasi 3 : Reksadana. Dalam investasi ini intinya kita membeli sekumpulan saham yang bagus melalui jasa fund manager yang profesional. Kita menginvestasikan dana (minimal 5 juta) untuk disetor kepada para pengelola reksadana (fund manager). Lalu oleh mereka, dana itu dibelikan aneka saham yang bagus (misal saham Bank BRI, saham Astra, dll), dengan harapan harga saham itu terus naik secara konstan. Untuk kasus Indonesia, investasi melalui reksadana ini merupakan salah satu pilihan yang cukup jos markojos. Banyak produk reksadana yang mampu memberikan imbalan 4 kali lipat dalam lima tahun terakhir. Ke depan proses ekonomi Indonesia insya Allah bagus. Dan melakukan investasi reksadana adalah salah satu cara agar kita mampu ikut menikmati kemajuan ekonomi dan bisnis di tanah air. Pilihan investasi yang terakhir : agak jadul tapi mak nyus juga. Yakni investasi logam mulia emas. Tak pelak dalam lima tahun terkahir, logam emas telah menjadi primadona investasi. Sebabnya sederhana : ekonomi dunia terus gonjang ganjing, dan dollar Amerika makin babak belur lantaran ekonomi mereka yang kian tertatih-tatih. Dalam situasi semacam ini, emas selalu menjadi pelabuhan terakhir untuk bersandar. Itulah kenapa harga emas terus tancap gas pol dalam tiga tahun terakhir. 41 Namun bukan hanya itu. Harga emas selalu akan naik, diatas laju inflasi. Nilai emas dengan demikian tidak akan pernah turun. Dengan kata lain, investasi emas merupakan salah satu investasi yang paling aman dan menentramkan. Itulah 4 pilihan jenis investasi yang layak dipertimbangkan. Mau jadi raja waralaba? Monggo. Mau jadi peternak ruko? Silakan. Mau mencicipi gurihnya reksadana? Boleh juga. Atau kalau mau aman tentram dengan investasi emas, ya ndak apa-apa. Yang penting, Anda semua bisa melakukan investasi demi masa depan yang lebih sejahtera. Untuk kehidupan yang gemah ripah loh jinawi. www.strategimanajemen.net Blog ini setiap bulan dikunjungi 160.000 visitors. Sebab isinya memang inspiratif dan mudah dicerna. 42 Jika Penghasilan “Hanya” Rp 7 juta/bulan, Kapan Bisa Beli Rumah? Rumah. Pada akhirnya, setiap keluarga (atau yang akan menikah) memiliki harapan untuk memiliki rumah sendiri. Sebuah tempat dimana kita bisa berteduh, tidur, bermimpi dan berjibaku merawat masa depan anak-anak. Ya, kita semua menginginkan punya rumah sendiri. Sebab kita memang tidak ingin selamanya tinggal di Griya Mertua Indah, Graha Ortu Abadi, atau Pondok Kontrakan Lestari. Sialnya, harga rumah di negeri ini kok ya terus menari-nari. Rumah mungil dengan ukuran 90 m2 di daerah Cibubur atau Alam Sutra Serpong sudah menembus 600 juta rupiah. Kalau gaji “hanya” 7 juta per bulan, kapan rumah impian bisa direngkuh? Konon kabarnya, prinsip utama bagi pengelolaan properti adalah ini : kita mesti memiliki rumah minimal sejumlah anak kita. Jadi jika kita punya 3 anak, ya minimal rumah kita ada 3. Keren juga kalau bisa begitu ya: jadi kelak ketika anak-anak kita menikah, kita sudah menyiapkan rumah tinggal bagi mereka. Keren sekali. Namun boro-boro 3 biji, beli satu saja repotnya setengah ampun. Mari kita berhitung. Harga rumah dengan ukuran 90 M2 dengan hanya tiga kamar di daerah pinggiran seperti Bekasi harganya sekitar Rp 500 juta sekarang (sedikit lebih rendah dibanding harga di Cibubur). 43 Untuk membeli rumah senilai Rp 500 juta, Anda harus menyiapkan DP 100 juta-an. Wah saya ndak punya tabungan segede gitu mas. Tabungan saya cuma 20 juta. Yah, itu urusan sampeyan. Jadi? Ya nabung dulu supaya punya DP 100 juta. Wah, boro-boro nabung mas, untuk biaya hidup saja suka kurang. Yah, hidup memang tidak seindah omongannya Mario Teguh Oke, setelah di-itung2, Anda merasa bisa nabung 100 juta tapi waktu butuh lima tahun. Wah kalau dalam lima tahun, harga rumah tadi mungkin sudah naik jadi Rp 700 juta. *kepalaMakinPening* Oke, dengan asumsi DP sudah lunas, maka sisanya adalah 400 juta. Kalau di- cicil dengan KPR bunga 7% fix sepanjang 15 tahun, maka cicilan per bulannya menjadi sekitar Rp 3 jutaan. Artinya selama 15 tahun lamaaaanya, kita cicil 3 juta setiap bulan. Tanpa henti. Jika gaji kita hanya 7 juta/bulan, maka memang agak berat : sisa gaji yang 4 juta itu terlalu meffett untuk bisa hidup dengan memadai. Apalagi kalau anaknya 3 (makanya ikut KB saja ). Karena itu dalam artikel berjudul Berapa Pendapatan Minimal yang Harus Kita Dapat, saya menghitung gaji Anda minimal 15 juta/bulan; agar Anda bisa membeli rumah sendiri dengan cukup leluasa. Jadi apa yang kudu dilakoni agar pendapatan kita minimal sejumlah itu? Berikut beberapa langkah yang bisa di-jalankan. Jika Anda karyawan, rata-rata dibutuhkan waktu sekitar 7 tahun untuk bisa menaikkan gaji dari angka 7,5 juta per bulan ke angka 15 juta per bulan (ini 44 rata-rata lho ya. Bisa lebih cepat, bisa lebih lamaaaa). Problemnya: 7 tahun mendatang harga rumah sudah naik lagi dong. Maka, Anda harus melakukan “akselerasi karir”. Caranya : bikin prestasi kerja yang oke, biar cepat promosi. Atau dengan bekal prestasi itu, Anda bisa pindah ke perusahaan lain dengan pangkat dan gaji yang lebih tinggi (asal prestasi kerja Anda itu memang bagus ya). Cara lain ya tentu saja mencoba mencari tambahan penghasilan sampingan. Anda bisa saja menjadi reseller kaos secara online, buka lapak jualan aneka kuliner organik, atau bisa juga ternak sapi kecil-kecilan di kampung halaman. Yang penting ada keberanian untuk melakukan action : demi tambahan sesuap nasi buat anak-anak. Dan juga demi bisa menabung agar mampu membeli rumah. Syukur-syukur kelak bisa membeli rumah sejumlah anak yang Anda miliki. Maka, doa saya khusus di Senin pagi ini adalah : semoga Anda semua bisa membeli dan membangun rumpah impian Anda. Sebab rumahmu adalah istanamu. 45 Jika Sampai Usia 35 Tahun Anda Masih Miskin, Salahkan Dirimu Sendiri “Kalau Sampai Usia 35 tahun Kamu Masih Miskin, Salahkan Dirimu Sendiri !! ” Demikianlah sebuah kalimat lugas dan makjleb, yang pernah disampaikan Jack Ma, bilioner pendiri imperimum online Alibaba.com. Konon Bill Gates juga pernah bilang kalimat yang mirip : kalau Anda terlahir dalam keadaan miskin itu memang bukan salahmu. Namun kalau Anda kelak meninggal dalam keadaan miskin, maka salahkan dirimu sendiri. Pertanyaannya : apa sih ukuran miskin itu? Dan kenapa kalau kita miskin, kita harus menyalahkan diri kita sendiri? < Ukuran miskin memang relatif, namun sayangnya, kini semua harga kebutuhan pokok dan harga rumah terus melangit. Harga sebuah rumah di pinggiran kota Bekasi Barat sudah tembus 400 – 500 jutaan. Maka saya pernah menulis kalau income Anda hanya 7 juta per bulan, mungkin sampai pensiun Anda akan sulit membeli rumah (yang kenaikan harganya lebih cepat dari kenaikan income Anda. Realitas yang muram nan pahit bagi jutaan keluarga muda). 7 tahun lalu saya juga pernah menulis di blog ini sebuah artikel yang menimbulkan kehebohan (karena yang komentar jumlahnya ratusan; dan di- share hingga 21 ribu kali). Dalam artikel tersebut, saya menulis agar tidak dikategorikan miskin, maka kalau Anda punya dua anak dan hidup di Jakarta atau kota besar lainnya di 46 Indonesia, maka income Anda minimal harus Rp 15 juta per bulan (artikel ini bisa dibaca pada bab 2 ebook ini). Tulisan itu di-publish 7 tahun silam ketika rupiah sempat berada pada angka Rp 8500 per dollar (wah nyesek dong lihat rupiah sekarang jadi 13.400). Meski demikian, saya merasa patokan Rp 15 juta/bulan itu rasanya tetap relevan untuk hari ini (segini saja banyak yang protes, apalagi kalau dinaikkan). Dan seperti yang saya tulis 7 tahun silam, inilah patokan income untuk menunjukkan bahwa Anda bisa hidup dengan nyaman, dan tidak miskin. Karena itu jika hari ini usiamu sudah 35 tahun, dan income Anda belum memenuhi patokan 15 juta/bulan, maka mungkin ada yang salah dengan strategi hidup dan action-mu. Sorry guys. You better blame your self.Oke, namun saya ingin lebih mendedikasikan tulisan ini untuk Anda yang usianya masih 25-an tahun. Kalau usiamu sudah 35 tahun, kamu sudah terlalu tua, dan asumsi saya, sampeyan semua sudah punya tabungan minimal 350 juta. Boleh dong punya prasangka positif :) Baik. Jika usia Anda sekarang adalah 25 tahun, dengan asumsi gaji atau income-mu 5 juta per bulan – maka apakah dalam periode 10 tahun mendatang, income Anda bisa dinaikkan 3 kali lipat? 47 BISA. Target yang sangat achievable. Kalau gagal, agak keterlaluan. Berarti sampeyan yang memang abal-abal. Jika Anda bekerja sebagai karyawan, berikut strateginya. Analisa apakah kantor Anda sekarang menjanjikan peluang karir yang bagus? Jika ya, bekerjalah dengan tekun, lalu tebarkan PRESTASI KERJA yang wow, dan yakinlah, karirmu akan melesat. Dalam usia 35 tahun, gajimu dengan mudah akan tembus 15 juta. Jika potensi gaji dan peluang karir di kantormu agak muram, tetaplah bekerja dengan tekun, dan tetap tebarkan prestasi kerja yang cemerlang. Why? Sebab prestasi yang wow itu yang akan membuat CV-mu cemerlang, dan membuat perusahaan lain tertarik meng-hiremu dengan kenaikan gaji signifikan. Inilah “mentalitas kaya” : terus bekerja dengan hebat dan tetap yakin, suatu saat jalan rezeki yang lapang akan datang menghadang. Namun, sayangnya sejumlah karyawan punya “mentalitas miskin”. Karena merasa karirnya stuck, jadi bekerja dengan biasa-biasa saja, dan tidak kreatif membangun inisiatif kerja. Karena prestasinya biasa saja; CV-nya menjadi tidak meyakinkan; lalu mana bisa dia pindah ke perusahaan lain yang bagus, posisi yang tajir dan dengan gaji yang jauh lebih tinggi; nasib tetap muram. Mentalitas miskin” membentuk lingkaran setan yang membuat nasibnya stagnan. 48 Oke, itu strategi untuk Anda pekerja kantoran. Sementara jika Anda punya usaha sendiri, ini strateginya. Misalkan Anda jualan kaos premium melalui online shop. Profit bersih Rp 30.000 per kaos. Jadi untuk mendapat income Rp 15 juta per bulan, artinya Anda harus jualan 500 kaos per bulan. Target yang achievable. Bagaimana caranya? Desain produk harus wow dan unik. Caranya? Ya gunakan kreativitasmu. Strategi lain : clothing online store-mu harus bisa dikunjungi minimal 30.000 orang per bulan (bisa-lah, blog ini saja pengunjungnya 150 ribu visitors per bulan). Itu hanya sekedar ilustrasi strategi untuk mendapatkan income Rp 15 juta/bulan jika Anda usaha sendiri. DEMIKIANLAH, jalan strategi yang harus Anda lakoni untuk mendapatkan income Rp 15 juta per bulan kelak pada usia 35 tahun – entah Anda bekerja sebagai karyawan atau punya usaha sendiri. Dan saat ini usia Anda masih sekitar 25-an tahun. Bagi Anda yang usianya sudah diatas 35 tahun, feeling saya mayoritas dari Anda pasti income-nya sudah diatas Rp 15 juta per bulan. Kalau usia Anda sudah diatas 35 tahun, dan tiap minggu baca Blog Strategi + Manajemen, namun income Anda masih belum mencapai 15 juta/bulan – 49 mohon maaf mungkin minggu depan sebaiknya Anda BERHENTI mengunjungi dan membaca blog ini. Kenapa? Karena mungkin Anda lebih baik menggunakan waktu-mu untuk action nyata, dan bukan menghabiskan waktu untuk membaca blog katrok dan ngawur seperti blog strategi manajemen ini. Selamat merenung. Selamat berpikir tentang masa depan hidupmu. Kunjungi secara rutin blog www.strategimanajemen.net Blog ini pernah terpilih sebagai BLOG BISNIS TERBAIK seINDONESIA dalam Pesta Blogger Indonesia 50 3 Hal yang Bisa Membuat Anda Bangkrut Total Saat Memasuki Masa Pensiun Survei yang pernah dilakukan harian Kompas merilis fakta yang amat muram : 90 % karyawan Indonesia secara finansial tidak siap menghadapi masa tua saat pensiun kelak. Gaji yang kurang maknyus, jarang melakukan investasi, dan tabungan yang serba terbatas bisa membuat masa depanmu benar-benar suram. Anda terpuruk dalam nestapa persis saat usia Anda sudah tidak produktif lagi. Slogannya menjadi amat pahit : saat muda kerja keras banting tulang, lembur dengan gaji pas-pasan; saat tua sakit-sakitan dan sengsara karena nol investasi. Mari diminum dulu kopinya, untuk menemani mendung di pagi hari. Sejatinya saya sudah pernah menulis tentang masa depan yang kelam bagi sebagian besar karyawan Indonesia dalam menatap usia pensiunnya (bisa dibaca pada bab 4 ebook ini). Mari coba kita hitung ulang berapa biaya hidup yang Anda butuhkan saat kelak usia Anda 55 tahun dan masuk masa pensiun. Asumsi saat ini usia Anda masih 30 tahun. Dan biaya hidup sekarang hanya 5 juta/bulan. 51 Ukuran yang sangat minim, karena saya pernah menghitung biaya hidup yang memadai adalah Rp 15 juta/bulan. Okelah, anggap biaya hidup Anda sekarang hanya 5 juta/bulan. Laju inflasi per tahun 6% - ini adalah rata-rata inflasi tahunan kita selama 5 tahun terakhir. Dengan biaya hidup saat ini 5 juta, usia Anda sekarang 30 tahun, dan laju inflasi tahunan 6%, maka biaya hidup saat usia Anda 55 tahun sudah naik menjadi Rp 21,5 juta/bulan. Kenapa naik jadi 21 jutaan? Karena inflasi setahun 6%. Biaya hidup kan memang naik setiap tahun karena inflasi. Kalau dihitung : dengan inflasi 6%/tahun, maka dalam 15 tahun ke depan biaya hidup 5 juta itu akan naik menjadi 21,5 juta/bulan. Artinya saat usia Anda 55 tahun, dan pensiun, biaya hidup yang Anda butuhkan 21,5 juta/bulan. Ini dengan asumsi biaya hidup Anda sekarang HANYA 5 juta/bulan. Rata-rata harapan hidup orang Indonesia sekarang adalah 75 tahun. Artinya Anda masih perlu 20 tahun untuk menyiapkan biaya hidup. Jadi total biaya hidup yang Anda perlukan untuk pensiun dengan nyaman adalah : Rp 21,5 juta/bulan x 12 (bulan) x 20 (tahun) = Rp 5.1 milyar.Banyak sekali sodara-sodara. Wajar jika mayoritas pekerja Indonesia tidak siap menghadapi masa depan. Dan lalu kebanyakan “lari dari kenyataan”. 52 Cara paling elegan untuk lari dari kenyataan adalah dengan kalimat seperti ini : “Yah, biarkan hidup mengalir saja mas....”. Ya kalau mengalirnya ke Samudra Atlantik. Keren. Kalau mengalirnya ke Septic Tank ?? Modyar kon. Atau kalimat lain yang lebih heorik : “Matematikanya Allah tidak seperti itu mas....”. Kalimat ini hanya punya makna jika yang mengucapkan bergerak mengubah nasib dengan KREATIVITAS dan KOMPETENSI. Yang fatal adalah jika kalimat indah itu digunakan untuk menutupi ketidakmampuan dirinya untuk mengubah nasib. Untuk menutupi kemalasan dirinya dan lalu berlindung dibalik kalimat yang mulia. Malaikat yang mencatat amalan manusia mungkin jadi bingung : si Fulan ini bagaimana, menyebut-nyebut nama Tuhan, tapi malas mengubah nasib dan membiarkan dirinya terjebak nestapa dengan gaji yang pas-pasan. Kenapa si Fulan membiarkan dirinya terjebak kenestapaan saat usianya tua, karena 3 alasan berikut ini. 3 hal yang layak dikenang, saat kita mengucap kalimat : “rezeki selalu punya jalannya sendiri-sendiri”. Reason # 1 : No Investment Banyak orang menjadi nyungsep saat tua, karena di saat muda tidak pernah melakukan investasi. Mungkin karena memang penghasilannya pas-pasan sehingga nyaris tidak tersisa untuk investasi. Atau mungkin hidupnya agak boros : ambil kredit mobil meski gaji tak seberapa. Beli gadget yang paling bagus meski gaji pas-pasan. 53 Sekarang, saya mau memberi hitungan bedanya investasi saat usia muda dan usia tua. Misal usia Anda 25 tahun, dan investasi 10 juta, dengan return on investment sebesar 15% per tahun (ini rata-rata hasil investasi di reksadana. Di properti juga sama bahkan lebih besar). Dengan return 15% per tahun, maka pada saat usia 55 tahun, dana 10 juta yang Anda investasikan di usia 25 tahun itu sudah akan berkembang menjadi Rp 662 juta. Inilah the magic of investment.Sementara jika Anda investasi 10 juta saat usia 35 tahun, maka hasilnya hanya akan menjadi Rp 166 juta saat usia 55. Dan kalau invest di usia 40, maka hasilnya hanya akan menjadi Rp 81 juta. Anda lihat sendiri perbedaannya. Betapa jauhnya hasil yang Anda akan dapat saat invest di usia 25, 35 atau 40 tahun. Maka makin muda usia, melakukan investasi, makin bagus. “Aduh mas....uangnya sudah habis buat beli gadget mas. Ndak ada lagi untuk investasi”. Lhah bagaimana sampeyan bisa makmur kalo konsumtif kayak gitu. Reason # 2 : Stuck and No Action. Banyak orang yang nyungsep di saat menjelang tua karena tabungan pas- pasan. Dan kenapa tabungan pas-pasan, mungkin karena penghasilannya belum begitu memadai. 54 Problemnya : banyak orang yang mungkin merasa stuck dengan pekerjaannya (gaji sedikit, karirnya sembelit) namun tidak berani melakukan action. Mengeluh ya, namun action-nya nol. Plus sambil terus melamun tapi tetap "tidak bergerak untuk mengubah nasib". Kapan Le sampeyan sugihe, nek isone mung sambat karo ngalamun.... Tuhan tidak akan mengubah nasibumu, jika Anda tidak bergerak mengubah nasib. Nasibmu juga akan tetap stagnan, kalau bisanya hanya bilang :”matematikanya Allah tidak seperti itu mas”, namun tidak berani melakukan action terobosan untuk percepatan rezeki yang barokah. Kenapa tidak bisa action? Mungkin karena kompetensinya abal-abal. Dan kenapa kompetensi nyungsep? Mungkin karena alasan yang ketiga berikut ini. Reason # 3 : No Learning Resiliency. Banyak orang menjadi stagnan nasibnya karena tidak mau terus mempertajam skills dan kreativitasnya. Ingat, perubahan nasib hanya bisa dipahat saat engkau punya skills dan kreativitas yang cetar membahana. Problemnya, banyak orang malas mengembangkan dirinya karena terjebak dalam “comfort zone yang penuh dengan kenestapaan”. Maksudnya : lebih banyak asyik membuang waktu untuk hal-hal yang tidak produktif. 55 Misal : menghabiskan waktu berjam-jam untuk browsing, main FB, dan chatting di puluhan grup BBM/WA – yang acap isinya sama sekali tidak relevan dengan penguatan skills dalam bidangnmu. Atau yang lebih kelam : malah sibuk membahas informasi sampah di social media yang kadang sarat dengan emosi dan kebencian. Dan tidak ada korelasinya dengan perubahan nasibmu. Tanpa sadar, waktu untuk cek smartphone dan notifikasi penuh distraksi itu mungkin banyak merenggut waktu produktifmu untuk belajar. Solusinya simple : lacak skills yang amat krusial bagi arah hidupmu. Lalu fokus gunakan waktu luangmu untuk belajar peningkatan skills itu. Dan bukan buang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. DEMIKIANLAH, tiga hal yang layak direnungkan demi masa tuamu. Demi masa depanmu. No investment. Stuck and no action. No learning resiliency. Tiga hal ini yang secara muram bisa membuat masa tua-mu terpelanting sunyi dalam kenestapaan. Dalam perih dan duka. Mari kira lupakan sejenak kepahitan ini, dengan secangkir kopi hangat di pagi hari. 56 5 Alasan Kenapa Kebanyakan Orang Tidak Bisa Kaya Hingga Akhir Hayatnya Mendapatkan rezeki barokah yang terus tumbuh mungkin harapan banyak orang. Sebab jika income kita hanya tumbuh 5% per tahun, kita mungkin tidak akan bisa menyisihkan uang untuk investasi. Dan itu artinya, kita bisa mengalami kenestapaan saat kelak kita sudah pensiun dari kerja. Pada sisi lain, harga tanah dan rumah kian melesat. Tanpa pertumbuhan rezeki yang signifikan, banyak pasangan muda yang tidak akan sanggup beli rumah, dan terkena sindrom MTMM + SM = mangan turu melu morotuo, sampe mati. Pertanyaannya adalah ini : kenapa sebagian besar orang pertumbuhan penghasilannya stagnan, dan tak kunjung bisa makmur? Kita akan melacaknya di pagi hari ini, sambil ditemani secangkir kopi hangat. Sejatinya ada sejumlah faktor yang mungkin bisa menjelaskan kenapa sebagian besar tidak bisa kaya hingga akhir hayatnya. Namun disini, kita hanya ingin melacak 5 alasan fundamental yang layak dikenang. Reason # 1 : Pessimism. Ini soal mindset, soal belief yang bersemayam dalam alam bawah sadar. Sering, tanpa sadar banyak orang yang memiliki kilatan pesimisme dalam hatinya. 57 Waduh biaya hidup kok makin mahal ya. Hidup kok makin susah ya. Ah, saya pasti tidak mungkin jadi direktur. Saya tidak punya bakat untuk jadi pengusaha sukses. Aduh, jangan-jangan saya tidak akan bisa beli rumah sampai pensiun nanti. Rentetan “negative self talk” seperti diatas mungkin kadang berkelebat dalam hati. Inilah serangkaian sugesti negatif yang acap membentuk bayang-bayang pesimisme dalam jiwa. And you know what? Energi negatif seperti itu akan diserap oleh Alam Semesta dan kemudian dibalikkan kepada raga Anda untuk menjadi KENYATAAN. Disini berlaku prinsip Law Of Attraction : what you think is what you get. Self talk negatif yang Anda pikirkan, akan mengembang, dan somehow benar- benar bisa menjadi fakta yang terasa begitu pahit. Reason # 2 : Bad Learning Spirit. Perjalanan panjang untuk mengubah nasib sungguh tak mudah dijalani. Melelahkan, dan butuh “kecerdasan jalanan” (street smart) yang membahana. Dan karena itu, learning spirit mesti terus dikibarkan. Sayangnya, banyak orang yang tidak “panjang akal”. Banyak orang yang tidak punya resourfulness (punya kemandirian untuk belajar dan mencari solusi hingga tuntas, dan bukan manja, terus bertanya, dan malas mencari solusi secara mandiri). Inginnya terus dibimbing seperti anak SD. Tidak punya inisiatif untuk belajar secara mandiri, dan menemukan solusi yang aplikabel. 58 Perjalanan mengubah nasib dan level kemakmuran pasti akan nyungsep saat self-learning spirit dan resourcefulness itu lenyap dari raga kita. Reason # 3 : No Action Talk Only NATO. Ini nih orang yang terlalu banyak celoteh, so keminter, namun ndak jalan-jalan. Kapan sugihe Le, nek sampeyan ndobos thok. Ndak pernah action. Saya punya teman yang memiliki karakter NATO ini. Setiap kali ketemu, bicara panjang lebar tentang rencananya, mau melakukan ini, dan itu, serta blah blah lainnya. Bulan depan ketika ketemu, dia ya masih ngomong hal yang sama. Dan yang keren, hampir semua rencananya itu belum ada yang dijalankan. Ini seperti orang delusional. Senenge ngalamun thok. Atau ada juga orang yang memang ingin berubah. Semua rencananya dipendam dalam hati (baguslah, orang ini tidak banyak omong). Namun hasilnya ternyata sama : apa yang dipendam dalam hati itu, terus saja dipendam sampai rambutnya ubanan. Alias no action juga. Mungkin orang itu malas. Mungkin orang itu suka menunda-nunda. Tunda terus saja sampai sampeyan pensiun mas. Baru setelah pensiun, kaget, lho kok tabunganku ndak cukup untuk hidup. Modyar kon. Reason # 4 : Low Resiliency Oke, akhirnya mungkin orang itu sudah mau bergerak. Akhirnya mau take action. Namun sayangnya, kurang gigih. Low level of resiliency. Begitu 59 menghadapi problem, langsung menyerah. Langsung bubar jalan. Atau ngambek. Padahal puluhan studi tentang perubahan nasib manusia, menulis : elemen paling kunci dalam perjuangan mengubah level penghasilan itu adalah resiliensi, daya juang, keuletan dan kegigihan. Sebab narasi kesuksesan itu acap ditentukan, oleh sejauh mana kamu bisa terus berjalan saat cobaan demi cobaan datang menghadang. Saat kamu bisa bangun 9 kali, ketika kamu menemui kegagalan 8 kali. Reason # 5 : PELIT. Elemen terakhir ini simpel, dan berurusan dengan dimensi spiritualitas. Alasan terakhir ini layak kita sebut, karena bersifat anti-tesa dengan ajaran klasik yang bunyinya seperti ini : The more you give, the more you get. Semakin banyak Anda memberi, Anda justu akan semakin kaya. Jalan keberkahan mungkin bisa terus terbuka, saat kita tekun memberi (memberi sedekah senyuman, sedekah ilmu, sedekah materi, atau juga sedekah kebaikan yang terus mengalir). Saat kita punya keikhlasan untuk berbagi kebaikan, mungkin pintu rezeki akan selalu datang dari arah yang tak terduga-duga. DEMIKIANLAH, lima reason kunci yang layak dikenang kenapa kita stuck dalam jalan hidup yang serba pas-pasan. Lima elemen itu adalah : 1) jiwa yang 60 pesimis 2) learning spirit yang buruk, 3) no action talk only 4) low resiliency dan 5) PELIT. Selamat bekerja, teman. Selamat berbagi kebaikan demi keberkahan bersama. Ebook ini dipersembahkan oleh : www.strategimanajemen.net Visit blog ini secara reguler untuk mendapatkan inspiring stories and ideas about business strategy, innovation and personal development
Post a Comment