EFINISI STRUKTUR ORGANISASI


Struktur organisasional didefinisikan sebagai bagaimana sebuah pekerjaan dibagikan, dikelompokan, dan dikoordinasikan. Yang perlu diperhatikan adalah enam elemen utama dalam perancangan Strukutur Organisasi yang masing-masing memiliki Pertanyaan kunci untuk perancangan Organisasi,
  1. Spesialisasi Kerja (Sampai sejauh mana aktivitas dibagi lagi kedalam pekerjaan-pekerjaan secara terpisah?)
  2. Departementalisasi (Atas dasar apakah pekerjaan akan dikelompokan bersama-sama?)
  3. Rantai Komando (Kepada siapa individu dan kelompok akan memberikan laporannya?)
  4. Rentang Kendali (Banyaknya individu yang dapat diarahkan seorang manajer secara efisien dan efektif?)
  5. Sentralisasi (Dimana otoritas pengambilan keputusan terletak?)
  6. Formalisasi (Sampai sejauh mana akan terdapat aturan dan regulasi untuk mengarahkan para pekerja dan para manajer?)


  1. SPESIALISASI KERJA
Spesialisasi Kerja (Work Specialization) yakni sampai sejauh mana aktifitas dalam organisasi dibagi kedalam pekerjaan secara terpisah. Sebagai Contoh Henry Ford sebagai pendiri Perusahaan Otomotif Ford yang memperkenalkan sistem lini produksi untuk perakitan sebuah mobil yang membuatnya sangat efisien dan dapat memproduksi secara massal. Ford menunjukan bahwa kerja dapat dilaksanakan dengan lebih efisien jika memberlakukan Spesialisasi Kerja. Pada Akhir 1940-an, sebagian besar pekerjaan manufaktur dalam negara-negara industry menampilkan kecerungan spesialisasi kerja yang tinggi. Manajemen memandang bahwa setiap pekerja memiliki keterampilan yang berbeda-beda yang ini dapat menguatkan untuk dilakukan Spesialisasi kerja dengan condong kepada keahlian pekerja tersebut. Bahkan dengan perulangan melakukan pekerjaan yang sama dapat meningkatkan keahlihan pekerja tersebut. Terdapat lebih sedikit waktu yang dikeluarkan dalam perubahan tugas-tugas, membereskan peralatan dan perlengkapan dari tahap sebelumnya, serta selanjutkan akan mempersiapkan berikutnya lagi. Dan yang penting lagi akan memakan biaya lebih murah jika harus melatih seorang pekerja dengan tugas spesifik dan khusus.
Pada abad ke-20 para manajer barat memandang bahwa spesialisasi kerja sebagai sebuah sumber untuk meningkatkan produktifitas yang tak henti-hentinya. Mereka mungkin benar. Ketika spesialisasi tidak dipraktikan secara luas, tetapi dalam pengenalannya hampir selalu menghasilkan produktifitas yang cenderung lebih tinggi. Semua kelebihan yang didapatkan oleh Spesialisasi juga ada sisi negatif yang dapat ditemui seperti kebosanan, kelelahan, tekanan, produktifitas yang rendah, kualitas buruk, meningkatkan ketidakhadiran, dan tingkat perputaran yang tinggi. Ada satu cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan menempatkan pekerja kedalam tim-tim dengan keahlihan yang dapat dipertukarkan sering kali dapat mencapai hasil yang lebih tinggi secara signifikan.


Contoh penggunaan Spesialisasi dalam sebuah perusahaan diantaranya adalah
  1. Spesialisasi kerja yang tinggi membantu McDonald’s membuat dan menjual humburger dan kentang goring secara efisien dan membantu para spesialis medis dalam sebagian besar besar organisasi pemeliharaan kesehatan.
  2. Program Mechanical Turk dari Amazon, TopCoder,, dan lainnya menyukainya karena memfasilitasi tren yang baru dalam spesialisasi mikro yang mana merupakan bagian yang sangat kecil dan pemrograman, pemrosesan data, atau evaluasi tugas yang didelegasikan kepada jaringan global para individu oleh seorang manajer program yang kemudian merakit hasilnya.
Semua pekerjaan yang dapat dibagi menjadi beberapa tugas tertentu maka dapat dilakukan spesialisasi. Dengan demikian, dapat kita simpulkan Spesialisasi pada masa lampau lebih berfokus kepada pembagian tugas manufaktur. Sedangkan, spesialisasi saat ini membagi tugas dengan berdasarkan pada elemen fisik oleh teknologi dengan keahlihan, dan sering kali secara global.


Sumber : Robbins, Stephen P.; Judge, Timothy A. (2015). Perilaku Organisasi(buku 2). Jakarta: Salemba Empat




Post a Comment