Catatan Kuliah: Asas Perancangan Arsitektur

Tulisan ini adalah tugas akhir semester yang saya buat untuk mata kuliah Asas Perancangan Arsitektur.

Asas Perancangan Arsitektur

Merancang adalah sebuah proses.  Bagi seorang perancang, asas perancangan merupakan salah satu ‘senjata’ dalam proses tersebut. Asas menjadi semacam landasan pemikiran bagi perancang dalam menentukan gagasan rancangannya, juga sebagai pedoman dan pengarah bagi proses merancang. Asas-asas tersebut antara lain asas estetika, asas fungsional, asas rasional, asas simbolik, dan asas psikologik.
Asas estetika sangatlah erat hubungannya dengan aspek venustas dari arsitektur yang diungkapkan oleh Vitruvius. Penekanannya terutama pada wujud arsitektur sebagai objek rupa yang terkait dengan impresi visual. Sebuah objek arsitektur dibuat estetis melalui penataan bentuk,  bahan (warna/  tekstur),  ukuran, dan  letak, dengan memperhatikan prinsip-prinsip unity, order, dan coherence.
bird nest staidium, bird nest olympic, beijing 2008, olympic, stadium, stadion, stadion sarang burung
Bird Nest Olympic Stadium di Beijing, dibangun sebagai sebuah grand architectural statement dari Kota Beijing sebagai penyelenggara olimpiade kala itu.
sumber gambar:http://th02.deviantart.net/fs25/PRE/f/2008/084/7/e/Olympic_Bird__s_Nest_Stadium_by_lattin1.jpg
Asas fungsional arsitektur menurut pemikiran Mayall mengedepankan fungsi dan peran arsitektur, bagaimana arsitektur itu bertugas dan apa perannya bagi manusia dan dunia. Asas fungsionalitas dalam hal ini sering dirancukan dengan asas utilitarianism yang mengedepankan guna arsitektur. Padahal, fungsi dan guna merupakan dua hal yang berbeda. Fungsi arsitektur lebih cenderung kepada tujuan dibuatnya arsitektur itu sendiri, sebagai contoh sebagai sebuah tempat berlindung, sebagai sebuah pernyataan status, sebagai cerminan budaya, sebagai penanda waktu, sebagai penanda kekuasaan, dsb. Sementara guna lebih merujuk kepada bagaimana arsitektur itu dimanfaatkan oleh manusia, apakah ia menjadi sebuah rumah tinggal, rumah sakit, bank, kantor, sekolah, dsb. Asas fungsional sendiri meliputi sepuluh prinsip perancangan, yakni principle of totality, time, value, resources, synthesis, iteration, change, relationships, competence, dan service.
le corbusier, villa savoye, contoh asas rasional, arsitektur rasional, arsitektur modern, modern architecture, rational architecture
Villa Savoye, karya rancang Le Corbusier yang ternama dan sarat dengan asas rasional dalam konsepnya.
sumber gambar: http://www.ville-poissy.fr/uploads/pics/villa_savoie2.jpg
Asas berikutnya, yakni asas rasional, menekankan pada fungsi arsitektur sebagai sebuah wadah aktifitas manusia serta mengedepankan prinsip-prinsip rasionalitas. Sebagai sebuah wadah, maka ia dapat menjadi penyesuai perilaku manusia yang beraktifitas di dalamnya. Pengolahan ruang yang terjadi banyak dipengaruhi pemikiran bagaimana nantinya ruang itu akan digunakan dan bagaimana arsitektur memenuhi kebutuhan ruang tersebut dengan efektif dan efisien. Penerapan asas rasional sendiri sebagian besar dapat ditemukan pada bangunan berlanggam modern.
piramida louvre, louvre pyramid, musee du louvre, perancis, paris, france, architecture grande, pyramid, glass panel, steel frame
Piramida Louvre, penerjemahan kembali kemegahan masa lampau melalui bentuk piramid dan teknik konstruksi modern.
sumber gambar: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/ff/Louvre-Bannenhaff-mat-Pyramid–w.jpg
Selanjutnya, asas simbolik merupakan asas yang menyertakan sejarah dalam proses merancangnya. Namun, sejarah yang dimaksud di sini bukanlah sejarah yang terkait peristiwa maupun identitas lokal, melainkan kenangan-kenangan akan arsitektur masa lalu yang dibangkitkan lagi melalui karya-karya masa kini. Asas simbolik ini erat hubungannya dengan fungsi arsitektur sebagai sebuah penyampai pesan. Dan penyelesaiannya tentu tidak akan lepas dari upaya agar pesan tersebut dapat ditangkap oleh orang yang mengapresiasinya.Dengan demikian, salah satu penekanan pada asas ini adalah wujud objek, bukannya bentuk seperti pada asas rasional yang mengedepankan keefektifan ruang terkait guna bangunan.
Yang terakhir, asas psikologik. Asas ini berusaha menggabungkan antara asas rasional dan simbologi. Dalam asas ini, pemakai karya rancangan dapat berpartisipasi dalam rancangannya. Asas psikologik berupaya menimbulkan respon dari pengguna dan merangsang fantasinya. Gubahan-gubahan dalam asas ini akan turut mempengaruhi pola perilaku manusia.
Meskipun ada banyak asas dalam perancangan arsitektur yang kelihatannya terpisah, dalam penerapannya, masing-masing asas tersebut tetap memiliki andil dalam membentuk suatu karya arsitektur. Karena, penggunaan asas dalam merancang bukanlah suatu pilihan, melainkan prioritas. Sehingga, bukan tidak mungkin suatu karya arsitektur melibatkan masing-masing asas tersebut dalam proses perancangannya, hanya saja dalam porsi yang berbeda-beda, yang satu mungkin lebih menonjol daripada yang lain. (*)

Post a Comment